Pages

Wednesday, 1 November 2017

cara menghadapi konsumen yang ruwet cerewet bawel dan lainnya ???

Sebagai pebisnis, tentu Anda akan memberikan perhatian khusus untuk pelayanan pelanggan karena pelanggan ibarat seorang raja. Pelayanan yang masksimal saja belum tentu menghasilkan penjualan, apalagi pelayanan yang seadanya. Ada berbagai karakter pelanggan dengan berbagai keunikan yang akan Anda temui. Lalu bagaimana cara mengenali pelanggan sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal dan produktif?

Bagaimana Mengetahui Tipe-Tipe Konsumen

Biasanya sebelum melakukan pendekatan kepada calon konsumen, Anda akan menjelaskan hal-hal yang umum seperti memperkenalkan diri dan produk Anda. Anda bisa melakukannya sekitar 2-3 menit. Waktu tersebut Anda gunakan untuk menentukan tipe konsumen dan menilai apakah calon klien tersebut termasuk kategori sangat prospek, semi prospek atau tidak prospek. Sebaiknya Anda sering mengikuti pelatihan penjualan sehingga kemampuan praktik Anda dilengkapi dengan ilmu pengetahuan yang memadai.

Tipe-Tipe Konsumen

Setelah Anda belajar menentukan konsumen, maka Anda sudah harus bisa mengambil sikap dan tindakan untuk melayani konsumen sesuai dengan tipe-tipe konsumen Anda. Berikut ini adalah tipe-tipe konsumen dan cara melayaninya:

1. Tipe konsumen pendiam

Konsumen tipe ini biasanya tidak banyak bicara. Jika tidak mendapatkan pancingan dari lawan bicaranya maka mereka tidak akan berbicara. Less talk more action, mungkin itulah semboyan konsumen tipe ini.

Konsumen tipe ini biasanya jaringan pertemanannya terbatas karena mereka jarang bergaul. Namun jika mereka memiliki teman, mereka sangat dekat sehingga setiap ucapannya akan selalu dipercaya. Dan jika sudah sekali percaya, mereka akan terus mempercayainya sampai kapan pun. Sifat ini akan menguntungkan bagi Anda, sebab referensi dari si pendiam dapat sangat diandalkan.

Langkah-langkah komunikasi ketika berhadapan dengan konsumen tipe ini adalah:

    Anda harus menyiapkan mental untuk lebih banyak bicara daripada mendengar.
    Memulai pembicaraan dengan hal-hal yang ringan dan tidak perlu membicarakan sesuatu yang berat dengannya, apalagi langsung ke urusan penjualan. Anda bisa memulainya dengan membicarakan hobi, keluarga dan sebagainya.

2. Tipe konsumen cerewet

Meski tidak memancingnya Konsumen tipe ini sangat aktif bicara. Bahkan tidak jarang mereka terlihat mengenal dan dekat dengan Anda. Mereka sangat mudah diajak berbicara dengan gaya yang santai dan akrab. Terkadang pembicaraan mereka juga berlebihan, tapi itulah tipe konsumen cerewet.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk berkomunikasi dengan tipe ini yaitu:

    Coba untuk menjadi pendengar dan biarkan konsumen Anda berbicara.
    Ikuti alur mereka sampai pada tahap tertentu. Kemudian belokkan alur pembicaraan sesuai keinginan Anda.
    Jangan ragu mengatakan, “Bolehkah saya berbicara sekarang?”

3. Tipe konsumen arogan

Arogan merupakan salah satu tipe konsumen yang sulit menerima pendapat orang lain dan selalu menganggap pendapatnyalah yang paling benar. Jika Anda tidak mengenal karakter ini, jangan menyalahkan diri Anda jika presentasi Anda selalu gagal. Konsumen arogan merasa tahu segala hal, termasuk produk Anda sekalipun. Dan dalam menghadapinya, Anda harus sabar dan tidak boleh tersinggung sama sekali.

Cara menghadapi konsumen seperti ini adalah:

    Beri mereka kesempatan untuk memahami produk Anda sesuai keinginannya. Anda bisa memberikan informasi mengenai  produk Anda lewat brosur atau melihat produk sendiri.
    Jangan coba-coba menganggu “kesendiriannya” jika tidak ingin mendapatkan cacian.
    Anda hanya bisa bertanya, “Apakah Anda sudah jelas tentang produk kami?” atau pertanyaan lain yang sejenis.
    Tipe seperti ini sangat senang dipuji. Oleh karena itu pujilah mereka dengan sopan dan proporsional.

4. Tipe konsumen sombong

Apakah Anda tahu perbedaan sombong dengan arogan? Dalam konteks ini, tipe sombong dimaknai sebagai seseorang yang terlalu bangga dengan dirinya dan suka banyak berbicara dan sering kali memamerkan kemampuannya dan apa yang dimiliki. Padahal yang dikatakan mereka belum tentu benar. Bagi penjual, tipe seperti ini adalah konsumen yang paling mudah dipengaruhi.

Berikut ini yang harus Anda lakukan untuk tipe seperti ini agar mudah menghadapinya:

    Biarkan mereka bicara sesuka hatinya
    Memberi kesan seolah-olah Anda menyetujui semua pendapat mereka. Misalnya dengan mengatakan “Anda benar”, “Saya setuju dengan Anda”, dan pernyataan lain sejenisnya.
    Pujilah sesuatu yang mereka banggakan. Misalnya, jika konsumen Anda memiliki banyak perhiasan, berikan pujian tentang hal itu.
    Rayu konsumen Anda untuk menggunakan produk Anda berdasarkan pembicaraan mereka sendiri. Contoh pernyataan, “Jika mampu membeli barang mewah seperti yang telah Anda ceritakan, Anda pasti bersedia membeli produk kami”.

5. Tipe konsumen hemat

Orang hemat adalah orang yang terlalu memperhitungkan untung rugi dan memanfaatkan setiap hal yang akan dibelinya. Konsumen ini memang harus memperhitungkan seberapa besar manfaat yang akan diperoleh jika membeli sesuatu. Namun, tipe hemat cenderung berlebihan. Mereka sangat detail dan tidak akan melewatkan satu pun perhitungannya.

Trik untuk menghadapinya yaitu:

    Siapkan data dan hitung-hitungan setiap produk secara lengkap
    Sampaikan manfaat dan fungsi setiap produk kepada konsumen
    Jangan pernah mengabaikan perhitungan produk, bahkan perhitungan paling sepele sekali pun.
    Jangan pernah mengabaikan manfaat dan fungsi produk, bahkan manfaat yang paling minor sekali pun.

6. Tipe konsumen pembanding

Tipe pembanding adalah konsumen yang sangat paham akan produk yang Anda tawarkan. Bisa jadi konsumen tipe ini justru lebih menguasai produk Anda bahkan produk kompetitor, jika Anda tidak benar-benar mempelajari produk. Untuk itu Anda harus menguasai produk sendiri dan produk pesaing dalam menghadapi konsumen bertipe pembanding.

Tipe pembanding akan selalu membandingkan produk-produk Anda dengan produk kompetitor. Bisa saja Anda terperosok ke dalam jebakan perbandingannya. Pastinya setiap penjual selalu mengunggulkan kualitas produk sendiri dan merendahkan produk pihak lain. Jika Anda tidak menguasai produk, mungkin saja Anda akan mati kutu ketika berhadapan dengan mereka.

Trik untuk menghadapinya yaitu:

    Kuasai produk semaksimal mungkin dan ilmu presentasi agar mampu meyakinkan tipe pembanding.
    Pelajari produk-produk sejenis kompetitor.
    Jangan pernah bersedia masuk ke dalam jebakan membanding-bandingkan produk tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan.
    Untuk menghadapi tipe ini, jika Anda belum paham betul, sebaiknya mengajak serta rekan kerja senior Anda.

Oleh: Winda Chan
Ilustrasi: Ary Pratama
Editor: Kiki A Larasati

http://yea-indonesia.com

Perhitungan KMK (Cash Convertion Cycle)

Dalam kesempatan ini, kami uraikan mengenai perhitungan Kebutuhan Modal Kerja dengan menggunakan metode Cash Convertion Cycle. Dalam penerapan metode ini kita mendasarkan perhitungan pada beberapa pos dalam laporan keuangan tahun terakhir meliputi: Penjualan, HPP, Piutang Dagang, Persediaan serta Hutang Dagang, perputaran piutang dagang, perputaran persediaan dan perputaran Hutang Dagang. Berikut contoh gambaran lebih detailnya:

Penjualan : Rp. 35.776.100.500,-
HPP : Rp. 28.198.306.232,-
Piutang Dagang :Rp. 22.385.429.659,-
Persediaan : Rp. 2.648.506.820,-
Hutang Dagang : Rp. 7.036.043.759,-

Berdasarkan data diatas, berikutnya kita tentukan perputaran piutangnya (A/R DOH), perputaran persediaannya ( Inventory DOH) dan perputaran hutang dagang (A/P DOH)

A/R DOH = (Piutang / Penjualan ) x 360 hari = 225 Hari
Inventory DOH = (Persediaan / HPP) x 360 hari = 34 Hari
Perputaran Hutang Dagang = (Hutang Dagang / HPP) x 360 hari = 90 hari

Selanjutnya kita tentukan proyeksi penjualan kedepan, diasumsikan penjualan naik 5 % dan HPP adalah 78 % dari penjualan dan hutang Bank tidak ada maka:
Penjualan kedepan : Rp 37.554.405.525,-
HPP : Rp. 29.292.436.310,-

Kebutuhan KMK
A/R Financing = (Penjualan Kedepan / 360) x 225 hari = Rp. 23.504.701.142,-
Inv Financing = ( Hpp kedepan / 360 ) x 34 hari = Rp. 2.751.272.247,-
A/P Financing = (Hpp kedepan / 360) x 90 hari = Rp 7.309.051.189,-

Kebutuhan Modal Kerja = (A/R Financing+ Inv Financing) - A/P
= Rp. 18.946.922.200,-

Modal kerja yang dapat diberikan oleh Bank Maksimal adalah (80% x Rp.18.946.922.200,-)
= Rp. 15.157.537.760,-

Demikian, semoga bermanfaat

Hasan

Analisa Kredit : Menghitung Kebutuhan Modal Kerja (Working Investment Needs)

Pada dasarnya, kredit yang disalurkan perbankan terdiri dari kredit konsumsi dan kredit modal kerja. Kredit konsumsi misalnya kredit untuk pembelian rumah (KPR), kredit serbaguna, kredit kepemilikan mobil, dan sebagainya yang digunakan untuk keperluan konsumtif. Di lain sisi, terdapat juga kredit produktif yang disalurkan untuk keperluan usaha yang biasanya dikenal dengan nama kredit modal kerja.

Salah satu analisa yang dibutuhkan untuk pengajuan kredit usaha tersebut adalah analisa kebutuhan pelaku usaha tersebut untuk memastikan bahwa kredit yang disalurkan tidak lebih dari yang diperlukan sehingga tidak terjadi penyimpangan penggunaan kredit (side streaming), yang mana seharusnya dibutuhkan untuk mengembangkan usaha tetapi digunakan untuk keperluan lain.

Kebutuhan modal kerja ini (atau biasanya dikenal dengan istilah WI Needs dalam dunia perbankan) dapat dihitung dengan membandingkan piutang, stok, dan utang calon debitur tersebut. Pada dasarnya, kebutuhan modal kerja usaha cadeb dipengaruhi oleh cashflow yang digunakan untuk membiayai piutang dan persediaan (stok barang), dimana uang cash belum diterima cadeb, namun sudah harus dibayar lagi untuk membeli stok selanjutnya. Ilustrasi sederhanya sebagai berikut.

Misalnya, anda memulai sebuah usaha dengan membeli stok barang Rp 500 juta, yang berarti uang anda telah terpakai Rp 500 juta sebagai modal. Penjualan stok tersebut juga dilakukan dengan memberikan tenor piutang selama 1 bulan kepada pembeli. Hal ini berarti anda tidak langsung menerima cash Rp 500 juta dari barang yang terjual tersebut, namun sudah harus membeli lagi stok barang selanjutnya agar penjualan dapat terus berlanjut. Dengan demikian, di bulan kedua sebelum piutang tersebut tertagih, anda harus mengeluarkan modal Rp 500 juta lagi untuk membeli stok barang, sehingga keseluruhan modal anda adalah Rp 1 M sampai anda menerima pembayaran dari customer anda yang dapat anda gunakan lagi untuk membeli stok. Demikian selanjutnya.
Namun, jika dalam kasus ini, supplier anda memberikan anda tenor utang selama 1 bulan juga, maka anda tidak perlu langsung membayar cash, sehingga kebutuhan modal kerja anda dapat dikatakan hanya Rp 500 juta.

Cara untuk menghitung kebutuhan modal kerja secara sederhana adalah sebagai berikut :
(Piutang + Stok Barang) - Utang dari supplier

Jika total piutang berjalan anda Rp 500 juta
Total stok barang di toko Rp 250 juta
Total utang kepada supplier Rp 300 juta

Hal ini berarti kebutuhan modal kerja anda : Rp 500 juta + Rp 250 juta - Rp 300 juta = Rp 550 juta.

Analisa Kebutuhan Modal kerja

Dalam hal interview atau menggali kebutuhan modal kerja calon debitur (khususnya UMKM), tidak selalu dikemukakan secara jelas berapa total utang, piutang, dan stok calon debitur. Kadangkala, calon debitur tidak mengetahui angka pasti jumlah stoknya, terutama untuk UKM yang kebanyakan tidak memiliki laporan keuangan atau pencatatan yang akurat.
Maka dari itu, cara lain untuk menggali kebutuhan modal kerja calon debitur adalah dengan menggali informasi tenor piutang yang diberikan kepada buyernya (berapa hari), lamanya perputaran stok (berapa hari), dan tenor utang yang diberikan supplier (berapa hari).

Jumlah piutang :
[tenor piutang / 30] x sales bulanan atau
[tenor piutang / 360] x sales tahunan

Jumlah utang :
[tenor utang / 30] x COGS bulanan atau
[tenor utang / 360] x COGS tahunan

Jumlah stok :
[lama perputaran stok / 30] x COGS bulanan atau
[lama perputaran / 360] x COGS tahunan

COGS = Cost of Goods Sold (harga pokok penjualan)

Contoh kasus :

Seseorang cabeb memiliki omset bulanan sekitar Rp 2 M untuk usaha grosirnya. Dari hasil interview, diperoleh data bahwa cadeb mengambil keuntungan 10% dari penjualannya. Tenor piutang yang diberikan cadeb kepada suppliernya adalah 2 bulan karena usahanya berupa grosiran. Perkiraan keseluruhan stok cadeb di gudang dan toko adalah Rp 1.5 M. Cadeb mendapatkan tenor utang hanya 1 minggu untuk mendapatkan harga paling murah dari suppliernya.
Dengan demikian, perhitungan kebutuhan modal kerja cadeb adalah sebagai berikut :

Sales = 2M
COGS = (100%-10%) x 2M = 1.8M

Jumlah piutang = [60 hari / 30 hari] x Rp 2M = Rp 4M
Jumlah persediaan = Rp 1.5M
Jumlah utang = [7 hari / 30 hari] x Rp 1.8M = Rp 420 juta

Dengan demikian,
Kebutuhan Modal Kerja (WI Needs) = Rp 4M + Rp 1.5M - Rp 420 juta = Rp 5.45 M

Oleh karena itu, bank dapat memberikan kredit kepada calon debitur tersebut maksimal Rp 5.45M tergantung dari kebijakan bank masing-masing (beberapa bank hanya membiaya x% dari total kebutuhan modal kerja).

Biaya Pemesanan dan Biaya Penyimpanan

 Biaya Pemesanan dan Biaya Penyimpanan
 
Biaya Pemesanan adalah semua biaya yang dikeluarkan dalam rangka mengadakan pemesanan barang. Biaya pemesanan tidak tergantung dari jumlah yang dipesan, tetapi tergantung dari berapa kali pesanan dilakukan. Biaya-biaya yang termasuk biaya pemesanan adalah biaya administrasi dan penempatan order, biaya pemilihan vendor ( pemasok ), biaya pengangkutan, biaya penerimaan barang.
Biaya Pemesanan dinyatakan dalam 2 bentuk :
1. Sebagai persentasi dari nilai rata-rata persediaan per-tahun
2. Dalam Bentuk Rupiah per-tahun per-unit barang

Biaya Penyimpanan adalah biaya yang berkenaan dengan persediaan barang. Yang termasuk biaya ini, antara lain : Biaya sewa gudang, gaji pelaksana gudang, Biaya administrasi gudang, Biaya listrik, biaya modal yang tertanam dalam persediaan, biaya asuransi, biaya kerusakan ( biaya kehilangan ) dan sebagainya.

Modal Kerja : Pengertian, Konsep, Jenis, Manfaat, Penggunaan, Manajemen dan Perputaran???




1.  Pengertian Modal Kerja

            Menurut Jumingan (2011:66) modal kerja yaitu :

“ Modal kerja yaitu jumlah dari aktifa lancar. Jumlah ini merupakan modal keja bruto (gross working capital ).definisi ini bersifat kuantitatif karena menunjukan jumlah dana yang digunakan untuk maksud- maksud operasi jangka pendek. Waktu tersedianya modal kerja akan tergantung pada macam dan tingkat likuiditas dari unsur-unsur aktiva lancar misalnya kas, surat-surat berharga,piutang dan persdiaan.

Sedangkan pengertian modal kerja menurut Kasmir (2012:250) yaitu :

” Pengertian modal kerja merupakaan modal yang digunakaan untuk melakukan kegiatan operasi perusahaan. Modal kerja diartikan sebagai investasi yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva jangka pendek, seperti kas, bank, surat-surat berharga,piutang,persediaan dan aktiva lancar .”

2. Konsep Modal Kerja

            Menurut Munawir (2010:14) ada 3 konsep modal kerja yang umum digunakaan, yaitu :

    Konsep Kuantitatif

Konsep ini menitik beratkan kepada kuantum yang diperlakukan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam membiayai operasinya yang bersifat rutin atau menunjukan jumlah dana (fund) yang tersedia untuk tujuan operasi jangka penpek. Dalam konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancar (gross working capital ).

    Konsep Kualitatif

Konsep ini menitik beratkan pada kualitas modal kerja, dalam konsep ini pengertian modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang jangka pendek (net working capital), yaitu jumlah aktiva lancar yang berasal dari pinjaman jangka panjang maupun para pemilik perusahaan.

    Konsep Fungsional

Konsep ini menitik beratkan fungsi dari dana yang dimiliki dalam rangka menghasilkan pendapatan (laba) dari usaha pokok perusahaan.

3. Jenis Modal Kerja

            Menurut Munawir ( 2010:119) pada dasarnya modal kerja itu terdiri dari dua,yaitu pertama, bagian yang tetap atau bagian yang permanen yaitu jumlah minimum yang harus tersedia agar perusahaan dapat berjalan lancar tanpa kesulitan keungan, dan kedua jumlah modal kerja yang variabel yang jumlahnya tergantung pada aktifitas musiman dan kebutuhan-kebutuhan di luar aktivitas biasa.

4.  Manfaat Modal kerja

            Modal kerja mampu membiayai pengeluaran atau operasi perusahaan sehari-hari. Dengan modal kerja yang cukup akan membuat perusahaan beroperasi secara ekonomis dan efesien serta tidak mengalami kesulitan keuangan. Manfaat modal kerja menurut Munawir (2010: 116) adalah:

    Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar.
    Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat pada waktunya.
    Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumen.
    Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para langgananya
    Memungkinkan bagi perusaahan untuk dapat beroperasi dengan lebih efesien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang ataupun jasa yang dibutuhkan.

5.  Penggunaan Modal kerja

Penggunaan modal kerja menurut Kasmir ( 2012: 258) biasa dilakukan perusahaan untuk:

    Pengeluaran untuk gaji, upah dan biaya operasi perusahaan lainnya.

Maksudnya dari pengeluaran untuk gaji,upah dan biaya operasi perusahaan lainya, perusahaan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar gaji,upah dan biaya operasi perusahaan lainnya yang digunakaan untuk menunjang penjualan.

    Pengeluaran untuk membeli bahan baku atau barang dagangan.

Maksud pengeluaran untuk membeli bahan baku atau barang dagaan adalah pada sejumlah bahan baku yang dibeli yang akan digunakaan untuk proses produksi dan pembelian barang dagaan untuk di jual kembali.

    Menutupi kerugian akibat penjualan surat berharga .

Maksud menutupi kerugian akibat penjualan surat berharga adalah pada saat perusaan menjual surat-surat berharga, namun mengalami kerugian. Hal ini akan mengurangi modal kerja dan segera ditutupi.

    Pembentukan dana.

Pembentukan dana merupakan pemisahan aktiva lancar untuk tujuan tertentu dalam jangka panjang, misalnya pembentukan dana pensiunan, dana ekspansi, atau dana pelunasaan obligasi. Pembentukan dana ini akan mengubah bentuk aktiva dari aktiva lancar menjadi aktiva tetap.

    Pembelian aktiva tetap (tanah, bangunan,kendaraan,dan mesin ).

Pembelian aktiva tetap atau investasi jangka panjang seperti pembelian tanah, bangunan, kendaraan dan mesin. Pembelian ini akan mengakibatkan berkurangnya aktiva lancar dan timbulnya utang lancar.

6.  Manajemen Modal Kerja

            Manajemen modal kerja menurut Muslich (2005: 142):

“Manajemen modal kerja merupakan manajemn aktiva lancar dan pasiva lancar “. Manajemen modal kerja memiliki beberapa arti penting bagi perusahaan. Pertama, modal kerja menunjukan ukuran besarnya investasi yang dilakukan perusahaan dalam aktiva lancar dan klaim atas perusahaan yang diwakili oleh utang lancar. Kedua, investasi dalam aktiva likuid, piutang barang adalah sensitif terhadap tingkat produktifitas dan penjualan.

Tujuan manajemen modal kerja menurut Kasmir (2012:253) yaitu:

    Guna memenuhi kebutuhan profitabilitas perusahaan
    Dengan modal kerja yang cukup perusahaan memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban pada waktunya.
    Memunginkan perusahaan untuk memperoleh tambahan dana dari pada kreditor apabila rasio keungan memenuhi syarat.
    Guna memaksimalkan penggunaan aktiva lancar guna meningkatkan penjualan dan laba.
    Melindungi diri apabila terjadi krisis modal kerja akibat turunnya nilai aktiva lancar.

7.  Perputaran Modal Kerja

            Perputaran modal kerja (net working capital trun over ) adalah salah satu rasio yang digunakaan untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja perusahaan selama periode tertentu. Artinya seberapa banyak modal ker4ja perusahaan berputar suatu periode tertentu atau dalam suatu periode. Rasio ini diukur dengan membandingkan penjualan dengan modal kerja atau dengan modal kerja rata-rata.

Formulasinya adalah sebagai berikut menurut kasmir (2012:182):




Advertisements

Fungsi Manajemen keuangan dan Tujuan Keuangan?

Fungsi Manajemen Keuangan

Berikut ini adalah penjelasan singkat dari fungsi Manajemen Keuangan:

    Perencanaan Keuangan, membuat rencana pemasukan dan pengeluaraan serta kegiatan-kegiatan lainnya untuk periode tertentu.
    Penganggaran Keuangan, tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan.
    Pengelolaan Keuangan, menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara.
    Pencarian Keuangan, mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan perusahaan.
    Penyimpanan Keuangan, mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dan mengamankan dana tersebut.
    Pengendalian Keuangan, melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada perusahaan.
    Pemeriksaan Keuangan, melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak terjadi penyimpangan.
    Pelaporan keuangan, penyediaan informasi tentang kondisi keuangan perusahaan sekaligus sebagai bahan evaluasi


Tujuan Manajemen Keuangan
Tujuan Manajemen Keuangan adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Dengan demikian apabila suatu saat perusahaan dijual, maka harganya dapat ditetapkan setinggi mungkin. Seorang manajer juga harus mampu menekan arus peredaran uang agar terhindar dari tindakan yang tidak diinginkan.

APA YANG DIMAKSUD Economic Order Quantity,Safety Stock,dan Re Order Point?

  Biaya-Biaya dalam Persediaan

Unsur-unsur biaya yang terdapat dalam persediaan dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :

1.Biaya Pemesanan

Biaya pemesanan (ordering cost, procurement costs) adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan bahan/barang, sejak dari penempatan pemesanan sampai tersedianya barang di gudang. Biaya pemesanan ini meliputi semua biaya administrasi dan penempatan order, biaya pemilihan vendor/pemasok, biaya pengangkutan dan bongkar muat, biaya penerimaan dan pemeriksaan barang

2.Biaya Penyimpanan

Biaya penyimpanan (carrying costs, holding costs) adalah biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan diadakannya persediaan barang. Yang termasuk biaya ini, antara lain biaya sewa gudang, biaya administrasi pergudangan, gaji pelaksana pergudangan, biaya listrik, biaya modal yang tertanam dalam persediaan, biaya asuransi ataupun biaya kerusakan, kehilangan atau penyusutan barang selama penyimpanan.

3.Biaya Kekurangan Persediaan

Biaya kekurangan persediaan (shortage costs, stockout costs) adalah biaya yang timbul sebagai akibat tidak tersedianya barang pada waktu diperlukan. Biaya kekurangan persediaan ini pada dasarnya bukan biaya nyata (riil), melainkan berupa biaya kehilangan kesempatan. Dalam perusahaan manufaktur, biaya ini merupakan biaya kesempatan yang timbul misalnya karena terhentinya proses produksi sebagai akibat tidak adanya bahan yang diproses, yang antara lain meliputi biaya kehilangan waktu produksi bagi mesin dan karyawan.

Biaya kekurangan persediaan sulit untuk diukur dan sering hanya diperkirakan besarnya secara subyektif. Namun, tidak berarti biaya kekurangan persediaan itu tidak bias dihitung. Tabel 3 berikut ini merupakan suatu contoh bagaimana menghitung biaya kekurangan persediaan. Pendekatan yang dilakukan dengan mencari rata-rata kerugian yang timbul akibat tidak tersedianya persediaan dan probabilitas terjadinya untuk setiap kasus